Thursday, December 25, 2014

MELAYU - DULU DAN SEKARANG

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.

Karangan di bawah ini, bertajuk Bangsa Melayu Baru, saya petik dari blog 'BEK TUWO BUDAYA' milik sahabat saya sejarawan T. A. Sakti dari Universiti Syiah Kuala, Aceh. Ianya ialah petikan dari karangan oleh Alfitra Salam yang tebit dalam suratkhabar Kompas di Indonesia sekitar 20 tahun yang lalu pada 21 November, 1994. Kandungannya memaparkan pemikiran 20 tahun yang lampau yang masih relevan, secara perbindangan, dengan keadaan di hari ini.

Apakah perubahan yang telah berlaku setelah lebih 20 tahun persoalan bangsa Melayu difikirkan.
 
Karangan berikutnya, yang saya beri tajuk MELAYU MASA KINI, saya pinjam dari satu masukan 19 Disember, 2014 yang di C&P oleh H. A. N. Azam dalam grup WhatsApp IMAM D'YAN, yang merupakan sindiran lucu yang perlu mendapat perhatian yang serius.

Antara 21 November, 1994 dan 19 Disember, 2014 terdapat dua kelohan dalam bentuk sajak yang didiklamasikan oleh seorang tokoh politik bertaraf antarabangsa Tun Dr. Mahathir Mohamad, berjudul 'Perjuangan Yang Belum Selesai' dan seorang Sasterawan Negara Usman Awang, berjudul 'Melayu'.

Setelah itu diturunkan pula sebuah lagu karangan seorang pemikir bangsa Tan Sri Dr. Nordin Kardi yang digubal pada tahun 1977 dan diperkenalkan dalam kursus-kursus anjuran Biro Tata Negara (BTN) pada tahun 1980. Lagu yang dinamakan 'Anak Kecil Main Api' adalah lagu yang mempunyai mesej yang relevan sehingga ke hari ini.

Sajak Tun Dr. Mahathir Mohamad dan lagu Tan Sri Dr. Nordin Kardi boleh didengar melalui U-Tube.

Untuk menghayati mesej yang disampaikan dalam sajak dan lagu di dalam masukan blog ini maka pembaca dinasihatkan supaya membacanya perlahan-lahan dengan perasaan yang bersemangat.

Selamat membaca.

1994

BANGSA MELAYU BARU!

Bangsa Melayu Baru, Berakar Nasional dan Berakal Internasional

Oleh: Alfitra Salam
 
MAHATHIR MOHAMAD
 
KEKHAWATIRAN terhadap masa depan ekonomi, sosial-budaya dan politik bangsa Melayu telah menimbulkan gagasan baru yang dilontarkan oleh Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, tentang perlunya pembentukan bangsa Melayu Baru. Gagasan tersebut dikemukakan oleh Mahathir ketika Kongres UMNO pada 8 November 1991, yang antara lain mengatakan bahwa bangsa Melayu akan dapat merebut tempatnya yang sah, bukan saja sebagai peserta tetapi juga sebagai bangsa yang menentukan, dengan satu syarat: orang Melayu haruslah ditransformasikan menjadi bangsa “Melayu Baru”.

Konsep “Melayu Baru” ini melibatkan perubahan menyeluruh terhadap segala aspek budaya orang Melayu, yang didefinisikan sebagai bangsa yang berbudaya sesuai dengan aliran zaman, sanggup menghadapi segala tantangan, dapat bersaing tanpa bantuan, terpelajar dan berilmu, canggih, jujur, berdisiplin, amanah dan ulet.

Munculnya gagasan Melayu baru ini tentunya tidak lepas dari pengamatan Mahathir sendiri dalam melihat gejala yang berlaku dalam masyarakat Melayu belakangan ini. Mahathir sendiri pernah mengatakan bahwa masyarakat Melayu gagal menguasai keterampilan dalam manajemen perdagangan modern.

 
ABDULLAH MUNSYI
 
Kekecewaan ini dirasakan juga sehubungan dengan kebijaksanaan pemerintah yang menyerahkan proyek perdagangan yang dimiliki oleh pemerintah kepada golongan bukan Melayu demi untuk menyelamatkan proyek tersebut. Pandangan terhadap perubahan sosial dan pembaharuan di atas, sebenarnya bukanlah gagasan baru dalam sejarah sosial Malaysia. Beberapa pemikiran pada masa pemerintahan kolonial, seperti Abdullah Munsyi (pertengahan abad ke-19) dalam bukunya Kisah Pelayaran Abdullah mengritik orang Melayu yang terkurung dengan tradisi, termasuk golongan atasan Melayu yang berfikir sempit dan sukar membuka pemikiran untuk menerima pembaharuan dari luar.

Syed Sheikh Al-Hadi (tahun 1920-an) pula menekankan pentingnya pembaharuan dilakukan ke atas pendidikan Islam ke arah menjadikan umat Islam dapat bersaing dalam biadng ekonomi. Begitu juga beberapa tokoh pemikir Malaysia terdahulu seperti Aminudin Baki, Za’ba yang mengritik budaya orang Melayu, yang kemerosotannya hingga kini dirasakan dalam kedangkalan budaya orang Melayu.
 
RUSTAM A. SANI
 
Kedangkalan budaya Menarik untuk dikaji pemikiran dari seorang cendekiawan Malaysia yang cukup kritis, Rustam A.Sani dalam bukunya Melayu Baru dan Bangsa Malaysia,  yang mendakwa masyarakat Melayu Malaysia sekarang ini merupakan gabungan tiga unsur budaya dangkal.
 
Pertama, unsur peradaban Barat yang agak dangkal. Peradaban seperti ini adalah orang Melayu yang menguasai bahasa Inggris, berpendidikan dan menguasai bidang profesi tertentu, tetapi pengusaan perdaban barat ini tidak melebihi hanya penguasaan “teknis” bidang yang dikuasai. Penguasaan bahasa Inggris hanya berfungsi sebagai perbendaharaan klise untuk bidang itu dan untuk pengucapan sehari-hari, bukannya pengucapan kreatif yang mendalam.

Kedua, unsur kebudayaan Melayu yang amat dangkal. Kedangkalan kedua ini adalah orang Melayu yang tipis kepekaannya akan budaya Melayu, sehingga dia mungkin tidak menguasai bahasanya sendiri, apalagi penggunaan bahasa itu untuk pengucapan yang kreatif dan canggih. Tradisi sastra, budaya dan sejarah dan pemikiran bangsa yang agak mendalam tidak dikuasai. Orang Melayu seperti ini justru memantapkan unsur-unsur feodalnya seperti kepekaannya terhadap struktur status dan sistem gelar yang amat rumit dalam budaya Melayu itu.

Ketiga, unsur Islam yang semata-mata bersifat ritus. Orang Melayu yang termasuk golongan ini adalah kelompok yang kurang menyadari sama sekali peradaban dan tradisi kecendikiwanan dalam pemikiran Islam., tetapi menekankan unsur amalan dan ibadah agama itu dalam kehidupannya. Bahkan “keislaman” seorang itu mungkin pula diukur semata-mata berdasarkan unsur ibadah yang nyata.
 
SALMAN RUSDHI
 
Dakwaan seperti di atas dapat juga dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, seperti yang terjadi pada tahun 1990 dimana sebuah universitas di Malaysia mengadakan diskusi mengenai buku Surat Setan. Karya Salman Rusdhi; antara yang diundang tokoh terkenal dari partai Islam PAS. Setelah diskusi panjang lebar, ternyata tokoh dari PAS ini sama sekali belum membaca buku ysng dihebohksn tersebut., sehingga tokoh tersebut menjadi ejekan di kalangan mahasiswa yang hadir.

Kasus yang sama terjadi juga dalam sebuah universitas di mana sekelompok mahasiswa mengadakan demonstrasi agar pementasan musik rock dibatalkan karena bertentangan dengan agama Islam. Setelah diadakan diskusi dengan pihak universitas ternyata kelompok mahasiswa yang menentang ini sama sekali tidak dapat menunjukkan alasan tepat yang masih melihat Islam dalam perspektif “pahala dan dosa”.
 
Gambaran di atas seperti yang dikatakan oleh Rustam A.Sani bahwa pemikiran orang Melayu masih terbatas pada ajaran agama Islam yang penafsirannya terlalu kolot, beku dan tidak rasional.
Pemahaman Melayu Baru.
 
WAWASAN 2020

Seperti halnya wawasan 2020, maka gagasan pembentukan Melayu Baru memperlihatkan pemikiran yang visionary dari seorang pemimpin atau suatu paradigma baru tentang model budaya masyarakat Melayu yang berorientasikan pada masa depan. Namun hingga kini gagasan pembentukan Melayu Baru ini masih belum dipahami secara mendalam.
 
Pada umumnya masyarakat mempunyai persepsi bahwa gagasan Melayu baru itu digunakan sebagai alasan untuk melakukan sesuatu hal yang baru di kalangan orang Melayu, Bahkan yang selama ini sukar diterima dalam kerangka sistem nilai dan etos orang Melayu.
 
Sedangkan kelompok oposisi mempersoalkan gagasan tersebut, karena menurut mereka konsep “Melayu Lama” tidaklah terlalu salah.
 
FIRDAUS ABDULLAH

Penelitian yang dilakukan oleh Firdaus Abdullah (Monograf Melayu Baru terbitan GAPENA,1993) persepsi masyarakat mempunyai pelbagai pandangan.
 
Pertama, gagasan Melayu baru suatu ungkapan generasi muda Melayu yang berpendidikan dan mudah menyesuaikan diri dalam lingkungan sekitarnya baik antara suku bangsa maupun di tingkat internasional.
Kedua, ungkapan Melayu baru sering dipergunakan terhadap suatu generasi yang terbuka pada perkembangan mutakhir di bidang politik, ekonomi dan sosial.
 
Ketiga, Melayu baru juga merujuk kepada aspek buruk dan tidak baik dalam generasi baru Melayu, seperti sifat tamak loba, “mata duitan” tidak jujur dan tidak ikhlas.
 
Keempat, ungkapan Melayu baru ada kalanya diberikankepada suatu angkatan usahawan muda dan tokoh konglemerat Melayu yang terbentuk sebagai hasil Dasar Ekonomi Baru yang sekarang ini dikaitkan dengan pembentukan suatu masyarakat perdagangan dan perindustrian bumiputra.
 
PERHATIAN
 
Catatan: halaman sambungannya belum ditemukan!. Libur Uroe Raya ‘Idul Adha 1435 H hari ke 3, Selasa, 7 Oktober 2014 jam 10.48 pagi. Pengetikan ulang kolom lima artikel ini turut dibantu putri saya. TA
 
(Sumber: Harian Kompas, Senin, 21 November 1994 hlm. 4).

2014

MELAYU MASA KINI

(Selepas 20 tahun berlalu kita masih mencari di mana Melayu)

MENCARI MELAYU

Di mana boleh cari ramai Melayu??

Pastinya di Kedah, Kelantan dan Trengganu.

Dan juga di pasar malam dan pasar minggu.

Di Akademi Fantasia dan Pesta Llagu.

Di Jom Heboh orang Melayu berpusu-pusu

Di Sungai Buloh, Pusat Pemulihan, dulu di Pudu.

Dan di jalan, tempat lumba haram, merempit tak berlampu.

Dan di selekoh duit rasuah depa pun sapu.

Di Pusat Serenti akibat ketagih dadah dan chandu

Di malam Kemerdekaan dan malam Tahun Baru.

Terkinja-kinja best giler menari macam hantu.

APA HOBI ORANG MELAYU

Terkenaal dengan budaya malas dan lesu.

Berlepak, buang masa, tak jemu-jemu.

Atau baca majallah Mastika, Harian Metro pasal ada cerita hantu.

Tengok telenovela dari Filipina dan Peru.

Berpusu-pusu pergi tengok pameran hantu.

Sambil makan, junk food, kuaci dan muruku.

Sibuk bercerita tentang Datuk K dapat bini baru.

 Apakah pakaian Siti nak pakai itu yang nak tahu.

Mana tak gendut berpenyakit selallu

Kalau nak berlagak Melayu masih nombor satu

Asal bergaya sanggup makan nasi dan toyu.

Boleh tak jumpa mereka di kedai buku.

Atau di perpustakaan dan majlis ilmu.

Atau ambil kelas kemahiran di hujung minggu.

Ada ... tapi kurang sangat mereka di situ.

KENAPA MELAYU JADI BEGITU ???

Nak salah siapa, ibu bapa atau guru.

Pemimpin Negara atau Raja dari dulu.

Ayat lazim di mulut ialah Melayu malas selalu.

Nak harap kerajaan saja membantu.

Terutama sekali kontraktor kelas satu.

Tak habis-habis gaduh nak jatuh siapa dulu.

Pasal jambatan senget atau siapa dia penghulu.

Mengadu domba asal dapat jadi ketua suku.

Dan suka sangat dengan budaya ampu mengampu.

SAMPAI BILA KITA NAK TUNGGU ????

Bangsa Melayu jadi bangsa yang maju.

Boleh! Dengan beberapa syarat tertentu.

Pertama dengan banyak menguasai ilmu.

Sabda Nabi, ikutlah Quran dan Sunnahku.

Al-Quran yang diturunkan 1400 tahun dahulu.

Tidaklah hanya baca, tapi turut ambil tahu.

Sehingga ada 20,000 orang di dalam masyarakat Melayu.

PEMIMPIN YANG AMANAH, BERANI, DISIPLIN, RAJIN, SETIA DAN BERSATU.
 


1996 

SAJAK: PERJUANGAN YANG BELUM SELESAI

Oleh: Tun Dr. Mahathir Mohamad

(Puisi ini telah dideklamasikan oleh penulisnya dalam majlis Malam Puisi Utusan pada  4hb Mei, 1996)

"Perjuangan belum selesai"

Sesungguhnya tidak ada yang lebih menyayat hati
Dari melihat bangsaku dijajah
Tidak ada yang lebih menyedihkan
dari membiarkan bangsaku dihina
Air mata tiada ertinya
Sejarah silam tiada maknanya
Sekiranya bangsa tercinta terpinggir
Dipersenda dan dilupakan

Bukan kecil langkah wira bangsa
Para pejuang kemerdekaan
Bagi menegakkan kemuliaan, dan darjat bangsa
Selangkah bererti mara
Mengharung sejuta dugaan
Biarkan bertatih asalkan langkah itu yakin dan cermat
bagi memastikan Negara merdeka dan bangsa terpelihara
air mata sengsara mengiringi setiap langkah bapa-bapa kita

Tugas kita bukan kecil
Kerana mengisi kemerdekaan rupanya lebih sukar dari bermandi
Keringat dan darah menuntutnya
Lagi pula apalah ertinya kemerdekaan
Kalau bangsaku asyik mengia dan menidakkan,
Mengangguk dan membenarkan,
Kerana sekalipun bangganya Negara kerana makmur dan mewahnya
bangsaku masih melata dan meminta-minta di negaranya sendiri

Bukan kecil tugas kita
Meneruskan perjuangan kemerdekaan kita
Kerana rupanya selain memerdekakan,
Mengisi kemerdekaan jauh lebih sengsara

Bangsaku bukan kecil hati dan jiwanya
Bukankah sejak zaman berzaman
Mereka menjadi pelaut, pengembara
Malah penakluk terkemuka?
Bukankah mereka sudah mengembangkan sayap
Menjadi pedagang dan peniaga
Selain menjadi ulama dan ilmuwan terbilang?
Bukankah bangsaku pernah mengharung
Samudera menjajah dunia yang tak dikenal
Bukankah mereka pernah menjadi
wira serantau
Yang tidak mengenal erti takut dan kematian?

Tugas kita belum selesai rupanya
Bagi memartabat dan memuliakan bangsa,
kerana hanya bangsa yang berjaya akan sentiasa dihormati
Rupanya masih jauh dan berliku jalan kita
Bukan sekadar memerdeka dan mengisinya,
tetapi mengangkat darjat dan kemuliaan buat selama-lamanya
Hari ini, jalan ini pasti semakin berliku
Kerana masa depan belum menjanjikan syurga
Bagi mereka yang lemah dan mudah kecewa

Perjuangan kita belum selesai
Kerana hanya yang cekal dan tabah
Dapat membina mercu tanda
Bangsanya yang berjaya.

Sajak ini telah dilagukan pada tahun 2000, diterbitkan oleh Dato’ Wah Idris dan dinyanyikan oleh Nora. 
 


2007

SAJAK - MELAYU


 – Usman Awang



Februari 1, 2007


Melayu itu orang yang bijaksana
Nakalnya bersulam jenaka
Budi bahasanya tidak terkira
Kurang ajarnya tetap santun
Jika menipu pun masih bersopan
Bila mengampu bijak beralas tangan.


Melayu itu berani jika bersalah
Kecut takut kerana benar,
Janji simpan di perut
Selalu pecah di mulut,
Biar mati adat
Jangan mati anak.


Melayu di tanah Semenanjung luas maknanya:
Jawa itu Melayu, Bugis itu Melayu
Banjar juga disebut Melayu, Minangkabau
memang Melayu,
Keturunan Acheh adalah Melayu,
Jakun dan Sakai asli Melayu,
Arab dan Pakistani, semua Melayu
Mamak dan Malbari serap ke Melayu
Malah mua’alaf bertakrif Melayu


 (Setelah disunat anunya itu)


Dalam sejarahnya

Melayu itu pengembara lautan
Melorongkan jalur sejarah zaman
Begitu luas daerah sempadan
Sayangnya kini segala kehilangan


Melayu itu kaya falsafahnya
Kias kata bidal pusaka
Akar budi bersulamkan daya
Gedung akal laut bicara


Malangnya

Melayu itu kuat bersorak
Terlalu ghairah pesta temasya
Sedangkan kampung telah tergadai
Sawah sejalur tinggal sejengkal
tanah sebidang mudah terjual

Meski telah memiliki telaga
Tangan masih memegang tali
Sedang orang mencapai timba.
Berbuahlah pisang tiga kali


Melayu itu masih bermimpi

Walaupun sudah mengenal universiti
Masih berdagang di rumah sendiri.


Berkelahi cara Melayu
Menikam dengan pantun
Menyanggah dengan senyum
Marahnya dengan diam
Merendah bukan menyembah
Meninggi bukan melonjak.


Watak Melayu menolak permusuhan
Setia dan sabar tiada sempadan
Tapi jika marah tak nampak telinga
Musuh dicari ke lubang cacing
Tak dapat tanduk telinga dijinjing
Maruah dan agama dihina jangan
Hebat amuknya tak kenal lawan


Berdamai cara Melayu indah sekali
Silaturrahim hati yang murni
Maaf diungkap senantiasa bersahut
Tangan diulur sentiasa bersambut
Luka pun tidak lagi berparut

Baiknya hati Melayu itu tak terbandingkan
Selagi yang ada sanggup diberikan 
 
Sehingga tercipta sebuah kiasan:“Dagang lalu nasi ditanakkan
Suami pulang lapar tak makan
Kera di hutan disusu-susukan
Anak di pangkuan mati kebuluran”


Bagaimanakah Melayu abad dua puluh satu
Masihkan tunduk tersipu-sipu?
 

Jangan takut melanggar pantang
Jika pantang menghalang kemajuan;
Jangan segan menentang larangan
Jika yakin kepada kebenaran;
Jangan malu mengucapkan keyakinan
Jika percaya kepada keadilan.


Jadilah bangsa yang bijaksana
Memegang tali memegang timba
Memiliki ekonomi mencipta budaya
Menjadi tuan di negara Merdeka

 




1977 - 1980

LAGU: ANAK KECIL MAIN API




Oleh: Tan Sri Nordin Kardi

(Rangkap berikut yang berwarna hitam di dalam lagu ini adalah versi asal yang telah digubah oleh Tan Sri Nordin Kardi. Rangkap yang berwarna unggu ialah tambah yang dibuat tiga kali oleh Allahyarham Dato' Hamdan Sulaiman, YABhgia Datin Seri Dr. Siti Hasmah Mohd Ali dan Abdullah Khair. Tambahan ini dibuat mengikut perkembangan masa. Rangkap terakhir bolehlah dipilih antara versi asal atau versi terakhir. Versi asal lagu ini, walaupun siap digubal dalam tahun 1977 hanya diperkenalkan dalam kurus-kursus anjuran BTN. Tambahan yang dibuat oleh Dato' Hamdan ialah di waktu lagu ini hendak diperkenalkan kepada masyarakat Melayu melalui KEMAS di bawah Kementerian Pembangunan Negara dan Luar Bandar di mana Dato' Hamdan bertugas sebagai pegawai seranta. Tambahan kedua oleh Datin Seri Dr. Siti Hasmah dibuat di waktu lagu ini diperkenal kepada UMNO di waktu saya menjadi Setiausaha Agung. Abdullah Khair membuat pindaan dan tambahan ketiga setelah prestasi Barisan Nasional yang paling buruk dalam PRU ke 12)
 
Anak kecil main api
Terbakar hatinya yang sepi
Air mata darah bercampur keringat
Bumi dipijak milik orang


Nenek moyang kaya-raya
Tergadai seluruh harta benda
Akibat sengketa sesamalah kita
Cinta lenyap di arus zaman

Indahnya bumi kita ini
Warisan berkurun lamanya
Hasil mengalir ke tangan yang lain
Peribumi merintih sendiri


Masa depan sungguh kelam
Kan lenyap peristiwa semalam
Tertutuplah hati terkunci mati
Maruah peribadi dah hilang


Kini kita cuma tinggal kuasa
Yang akan menentukan bangsa
Bersatulah hati bersama berbakti
Pulih kembali harga diri


Nenek moyangku menangis
Kenapa kita berdiam diri
Negara tergadai kerana dia lalai
Tak dengar rintihan yang ramai

Air mataku bertabur
Hatiku luka amatnya sedih
Marilah membangun gerakkan yang tidur
Selamatkan bangsa dan negeri

Janganlah kita main api
Teruslah negeri yang disayangi
Warisan dah lemas marilah bertega
Minta pemimpin undur diri

Melayu bangsa yang dihina
Bukan salah yang mempercayai
Manusia berkuasa sampai tak sedar diri
Kabullah do'a kami Ya Rabbi

Kita sudah tiada masa
Majulah dengan maha perkasa
Janganlah terlalai teruskan usaha
Melayu kan gagah di nusantara
Melayu kan gagah di nusantara
Melayu kan gagah di nusantara


Atau

Kita sudah tiada masa
Marilah berjuang bersama
Janganlah lalai teruskan usaha
Melayu kan gagah di Malaysia
Melayu kan gagah di Nusantara

Selesai membaca esei, mendeklamasi sajak dan menyanyi lagu di atas, pembaca diajak untuk turut membaca, atau mengulangi bacaan, masukan blog ini atas tajuk 'MELAYU ITU HEBAT BANGSANYA' dan 'FAKTOR NILAI DALAM KEBANGKITAN BANGSA'.

Semoga Allah s.w.t. sentiasa memberi petunjuk kepada kita.

Selamat berjuang dan terima kasih. 

7 comments:

Syed Bakri Al -Bukhary said...

Melayu susah nk berubah...tapi syabas tansri sebab selalu mengingatkn org melayu yg kadang kadang 'mengelamun' jauh..byk dari tulisan tansri yg sy update di facebook untuk bacaan anak muda macam saya..harap tansrisentiasa dlm rahmat allah .

Anonymous said...

Melayu di Tanah Melayu berangan selalu. Budaya melayu dicemari ajaran palsu sejak ratusan tahun yang lalu. Dicemar oleh golongan sarban yang kononnya serba tahu. Menjadikan otak melayu beku dan layu. Sudah diberi akal tapi hanya dijadikan hiasan melulu. Tadah tangan minta ini dan itu, tidak sedar tuhan dijadikan hamba orang melayu. Memang patut melayu menerima takdir yang layak untuk mereka selalu. Sebab mengunci akal sendiri tanpa perlu.

Anonymous said...

Saya perlu terdengar lagu Anak kecil Main Api disiarkan di TV1 rasanya 2 tahun lepas menjelang sambutang kemerdekaan.

Yang peliknya, rangkap akhir "Melayu kan gagah di nusantara" pun dah diliberalkan menjadi "Malaysia kan gagah di nusantara".

Apa-apa yang berunsur Melayu semua nak diliberalkan; kononnya atas dasar sama rata.

ahmad syauqi said...

Assalamualikum Tan Sri. Saya berminat nak temu bual tan sri untuk tugasan saya mengenai dasar pertanian. harap tan sri sudi. ini email saya ahmadsyauqizainol@gmail.com saya harap tan sri sudi kongsi ilmu dan pendapat tan sri. terima kasih

Anonymous said...

Tuan kita ada pantun utk melayu sekarang. Bunyinya lebih kurang begini,

2014 tahun mencabar
Telah berlaku malapetaka besar
Musnah bagai dilanda garuda
Bila pedoman habis dibakar

Ada yang suka mahu berjuang
Mengatur langkah bak dewa perang
Jangan berani hendak menyerang
Habis dikerah segala hulubalang

Rancak benar alunan perang
Macam qasidah berpukul gendang
Bila alam mula menyerang
Umat yang buat perkara dilarang

Semua rakyat harus menderma
Bila banjir musibah melanda
Duit zakat hilang ke mana?
Kalau diguna banyak manfaatnya

Tabung haji pun banyak untung
Hasil melabur duit penabung
Bolehlah pakai buat menampung
Susah penduduk di kampung2

Felda MAS pun ada rugi
Mungkin dek bijak memanda menteri
Ramai yg kias mohon berhenti
Makan dah banyak tak kenyang lagi

Agama itu jadikan pegangan
Bukan jadi bahan dagangan
Bila melayu buat perniagaan
Inilah akibat ubah pedoman

Ini pantun suka suka
Mintak maaf kalau terasa
Adat melayu suka berseloka
Tekan dijari panas di telinga

Anonymous said...

Tuan kita sambung lagi boleh

Jalan2 ke negeri arab
Pakai kasut berderap derap
Pergi merantau ilmu digarap
Mengaji quran mengajar kitab

Baca kitab imam ghazali
Ikut mazhab imam syafie
Jubah serban nak ikut nabi
Terlebih paham yang keliru sendiri

Banyak sungguh hasil negeri
Ramai yang tamak datang ke mari
Nak kaut hasil kayakan diri
Jangan lupa, orang tamak selalu rugi

Tanah melayu tanah keramat
Selalu berjasa mendapat berkat
Tapi jangan buat khianat
Dunia akhirat engkau dilaknat

Anak cucu tak dapat lari
Ini pedoman jalan kembali
Bukan guna majukan ekonomi
Untung kat dunia akhirat rugi

Bijaksana bijak laksamana
Bermain keris bermain senjata
Penuh beradab menyusun kata
Bahasa lambang bangsa berjiwa

Anonymous said...

Dalam tv tengok tsunami
Ramai orang bersabung nyawa
Pegi davos bincang ekonomi
Esok lusa bawak balik bank dunia

Dah banyak bank dalam negara
Hutang pun banyak bertimbun timbun
Jangan dibuat binasa angkara
Umpama campak kayu api dalam unggun

Budak pakai denim lusuh
Beli dekat bundle Lumut
Hati hati dengan musuh
Bila musuh dah masuk selimut

Janji diberi janji ditepati
Setiap kata mesti kotakan
Naik minyak sebelum terbit matahari
Bila turun banyak alasan

Dana asing tidak diperlukan
Jangan anda nak menggadai negara
Bila jerung memakan umpan
Banyak dia lupa apa dia kata

Kerang bukan sebarang kerang
Kerang datang dari laut
Perang bukan sebarang perang
Umpama thalut melawan jalut